Pertanyaannya kemudian: sejak kapan game yang dulu menjadi tempat kabur dari realita, malah berubah menjadi tembok yang membuat kita merasa wajib masuk setiap hari?
Saya masih ingat masa-masa SMA dulu saat bermain game di konsol genggam. Tidak ada yang namanya daily login atau battle pass. Mau seminggu tidak disentuh, tidak masalah. Karakter akan tetap setia menunggu di layar penyimpanan. Begitu dinyalakan lagi, petualangan berlanjut tanpa ada rasa tertinggal atau dikejar-kejar deadline. Game saat itu seperti buku novel—bisa dibaca secepat mungkin atau ditunda dulu, terserah kita. Kepuasan datang saat berhasil mengalahkan bos terakhir, bukan karena berhasil login tujuh hari berturut-turut.
Coba bandingkan dengan game online sekarang. Para pengembangnya sangat paham psikologi pemain. Mereka merancang game menjadi semacam "pekerjaan kedua" yang rela kita kerjakan tanpa digaji. Ada sistem battle pass dengan durasi terbatas, event mingguan yang menawarkan item langka, hingga fitur daily login dengan hadiah berlapis. Awalnya memang terasa menyenangkan, apalagi saat masa pandemi kemarin. Lumayan mendapat hiburan gratis sambil mengisi waktu luang. Namun lama-kelamaan, ini berubah menjadi beban. Jika sehari saja tidak login, rasanya rugi besar. Apalagi jika sudah tergabung dalam guild atau memiliki teman satu tim, kita bisa dianggap pemain yang kurang aktif bila tidak muncul setiap hari untuk raid.
Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya dengan salah satu game gacha terkenal. Awalnya ia download karena penasaran, sekadar ingin mengusir stres setelah bekerja. Beberapa bulan kemudian, ia mengaku sekarang bangun tidur lebih awal bukan untuk mandi, melainkan untuk "menghabiskan stamina" sebelum penuh. Saat jam makan siang, ia menyempatkan diri mengecek event. Malam harinya, ia menahan kantuk demi mengikuti guild war karena waktunya bentrok dengan jadwal tidur. "Capek sebenarnya," katanya suatu hari. "Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur investasi waktu bertahun-tahun di akun itu. Masa mau rugi?" Tanpa disadari, ia telah menjadi tahanan di game yang dulu ia anggap sebagai tempat pelarian.
Fenomena ini dalam psikologi disebut sunk cost fallacy, sebuah kondisi di mana seseorang merasa sayang untuk berhenti karena sudah terlalu banyak waktu dan tenaga yang dikorbankan. Ditambah lagi dengan FOMO atau fear of missing out, rasa takut ketinggalan event atau item terbatas yang membuat kita terus-menerus memeriksa ponsel. Padahal jika direnungkan kembali, kita membeli item atau karakter dalam game dengan uang dan waktu, namun ujung-ujungnya malah menambah stres sendiri. Ironis memang. Game yang seharusnya menjadi obat penat justru berubah menjadi sumber penat baru.
Beberapa bulan lalu, saya memutuskan mengambil langkah yang cukup drastis. Semua game online dengan sistem harian saya hapus dari ponsel. Bukan karena membenci game tersebut, tetapi karena ingin membuktikan pada diri sendiri: apakah saya akan "mati gaya" tanpa game-game itu? Ternyata minggu pertama memang terasa ada yang kurang. Tangan terasa hampa, mata sering melirik ke ikon game yang sudah tak ada. Namun setelah dua minggu berlalu, perasaan lega justru muncul. Ada waktu untuk membaca buku yang sudah setahun teronggok, menonton film yang menumpuk di watchlist, bahkan memainkan game single-player jadul yang selama ini terabaikan.
Menyadari bahwa game telah berubah dari pelarian menjadi penjara adalah langkah pertama yang penting. Tidak perlu mengambil langkah ekstrem seperti saya jika belum siap. Bisa mulai dengan hal sederhana: pasang timer saat bermain, coba lewatkan sehari tanpa login untuk membuktikan bahwa dunia tidak akan kiamat, atau mainkan game-game lawas yang tidak memiliki sistem online. Rasakan sendiri perbedaannya.
Pada akhirnya, game seharusnya menjadi seperti kopi di pagi hari—nikmat dinikmati dan memberi semangat, bukan seperti utang yang terus menagih setiap jam. Jika mulai merasa gelisah tanpa sebab saat tidak bisa login, atau merasa lega karena "tugas harian" di game telah selesai, mungkin sudah saatnya bertanya pada diri sendiri: "Saya yang bermain game, atau game yang mempermainkan saya?"



No comments:
Post a Comment