Kemarin sore, tanpa sengaja saya mendengar lagu "Kenangan Terindah" dari Samsons diputar di kafe tempat saya nongkrong. Dalam hitungan detik, rasaya seperti ditarik paksa ke masa 2007. Saya bisa membayangkan dengan jelas seragam SMA yang masih kucel, jajan di kantin bareng teman-teman, bahkan bau penghapus karet yang waktu itu selalu saya pinjam. Padahal saya sedang duduk di kafe modern tahun 2026, ditemani segelas kopi dan laptop yang terbuka. Lucu ya, cuma karena tiga menit lagu, saya bisa "bepergian" 18 tahun ke belakang.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal mistis atau kebetulan, tapi sudah dijelaskan secara ilmiah. Otak kita itu unik banget cara kerjanya. Saat pertama kali kita mendengar lagu tertentu di masa lalu, otak tidak hanya merekam melodinya. Ia juga merekam suasana hati saat itu, siapa yang ada di samping kita, bahkan hal-hal kecil seperti warna langit atau bau hujan pertama. Semua informasi ini disimpan rapi dalam satu "paket data" oleh hippocampus, pusat memori otak kita. Jadi ketika kita memutar lagu yang sama bertahun-tahun kemudian, lagu itu bertugas seperti kunci yang membuka kembali paket data tersebut.
Saya punya teman yang sampai sekarang tidak bisa mendengar lagu "Kangen" dari Dewa 19. Bukan karena benci, tapi karena lagu itu selalu mengingatkannya pada mantan yang menyakitkan. Sebaliknya, saya sendiri kalau mendengar lagu lagu itu justru ingat masa-masa bermain PS2 seharian di rumah teman, lengkap dengan bau mi instan yang diseduh pake ceret listrik jadul. Lagu yang sama, kenangan yang sangat berbeda. Ini membuktikan kalau musik itu netral, tapi emosi kita yang memberi warna.
Yang menarik, efek "mesin waktu" ini biasanya paling kuat untuk lagu-lagu yang kita dengar di masa remaja atau awal dewasa. Usia 15 sampai 25 tahun itu memang masa emas pembentukan identitas, di mana hampir semua pengalaman terasa intens dan berkesan. Itu sebabnya sampai kapan pun, lagu-lagu era 2000-an mungkin akan selalu terasa "lebih nendang" buat kita yang tumbuh di era itu. Anak-anak Gen Z kelak mungkin akan merasakan hal yang sama kalau mereka mendengar lagu Taylor Swift atau Billie Eilish di masa tuanya nanti.
Dulu saya sempat berpikir, mungkin perasaan nostalgia ini terjadi karena lagu-lagu zaman dulu emang "lebih berkualitas". Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sebenarnya bukan begitu. Bukan lagunya yang berubah, tapi kita lah yang berubah. Waktu itu kita masih muda, penuh mimpi, dan segalanya terasa lebih sederhana. Lagu hanya jadi pengingat bahwa kita pernah punya versi diri yang berbeda, yang mungkin sudah lama tertinggal.
Makanya kadang saya suka iseng sengaja memutar lagu-lagu dari masa tertentu. Saat sedang suntuk kerja, saya putar playlist tahun 2009 buat mengingatkan diri bahwa dulu saya bisa sepedaan keliling kota tanpa beban. Atau pas lagi galau, saya hindari lagu-lagu era kuliah karena nggak mau diingatkan pada patah hati yang dulu pernah bikin begadang nulis puisi norak. Musik itu bisa jadi teman, tapi juga bisa jadi monster kalau kita belum siap menghadapi masa lalu.
Yang menarik lagi, kita juga bisa menciptakan "kenangan baru" dengan lagu-lagu yang kita dengarkan sekarang. Lagu yang sering kamu putar di masa sulit hari ini, 20 tahun lagi mungkin akan mengingatkanmu pada seberapa kuat kamu bertahan. Jadi mungkin kita perlu lebih sadar dalam memilih "soundtrack" buat hidup kita sendiri.
Jadi kalau tiba-tiba kamu merasa sedih, senang, atau rindu saat lagu lama terputar, nikmati saja. Itu tandanya kamu pernah hidup, pernah merasakan, dan pernah melewati semua itu. Lagu memang bukan mesin waktu beneran yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu. Tapi setidaknya, ia bisa mengingatkan kita bahwa masa lalu itu pernah nyata, dan kita berhasil melewatinya sampai di titik ini.
Kesimpulan:
Kalau direnungkan lagi, menarik juga ya melihat bagaimana sesuatu yang sederhana seperti lagu bisa punya kekuatan sebesar itu. Dia bukan cuma sekadar kumpulan nada dan lirik, tapi semacam penanda waktu yang nempel diam-diam di relung ingatan. Tanpa kita sadari, lagu-lagu yang kita dengarkan di masa lalu ikut merekam potongan-potongan kecil kehidupan kita—suka, duka, marah, jatuh cinta, patah hati, bahkan momen-monde yang dulu terasa sepele tapi sekarang jadi berharga. Mungkin itu sebabnya ketika lagu lama terputar, rasanya bukan cuma telinga yang mendengar, tapi hati ikut bergetar. Jadi, kalau suatu hari nanti kamu tiba-tiba melayang ke masa lalu karena sebuah lagu, jangan buru-buru merasa aneh. Nikmati saja perjalanan kecil itu. Karena itu tandanya kamu pernah hidup, pernah merasakan, dan lagu itu setia menjadi saksi bisu perjalananmu. Dan bukankah itu hal yang indah?



No comments:
Post a Comment